Biografi Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki nama anak, Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah. Ketika ia memilih untuk pindah ke daerah Jawa Timur, masyarakat sekitarnya memanggilnya Raden Rahmat. Sumber : suhupendidikan.com

Pertimbangkan tabel biografi Ampel berikut:
biografi

Ia dilahirkan di Champa pada 1401 AD. Sejauh ini, banyak yang telah membahas posisi Champa.

Beberapa orang mengatakan lokasinya di Kamboja. Ada yang mengklaim bahwa posisinya ada di Aceh.

Selain banyak pendapat tentang posisi kelahiran Sunan, banyak orang mengira bahwa nama Ampel diberikan karena ia hidup lama di daerah Ampel Denta.

Daerah itu sekarang berada di daerah Wonokromo, di kota Surabaya. Namun sejauh ini belum ada pernyataan tentang kebenaran Sunan.

Raden Rahmat memiliki dua istri dan 11 anak. Istri pertamanya bernama Dewi Condrowati atau yang biasa dikenal dengan Nyai Ageng Manila.

Dari istri pertama ini, ia memiliki 5 anak bernama:

Maulana Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Syarifuddin (Sunan Drajat)
Siti Syarifah (istri Sunan Kudus)
Siti Muthmainnah
Situs hafsah

Sementara istri keduanya bernama Dewi Karimah.

Bersama istri keduanya, ia memiliki 6 putra:

Dewi Murtasiyah
Dewi Murtasimah
Raden Husamuddin
Raden Zainal Abidin
Pangeran Tumapel
Raden Faqih

Metode dakwah dilakukan oleh Sunan Ampel

Raden Rahmat berbagi metode dakwah dengan berbagai cara dengan kelas menengah dan bawah dan juga dengan komunitas intelektual yang memiliki visi luas.

Metodenya untuk menyebarkan Islam dinilai berbeda dari metode propaganda Sunan lainnya.

Biografi Sunan Ampel

Hampir semua Sunan menggunakan metode pendekatan artistik dan budaya, tetapi Raden Rahmat menggunakan integrasi dan juga pendekatan intelektual dengan diskusi kritis dan cerdas.

Metode pertamanya adalah bergabung ke dalam komunitas dengan kelas menengah ke bawah. Dalam proses pencampuran, ajaran Islam secara bertahap dimasukkan.

Selama proses penyebaran, pengetahuannya tentang agama Islam diuji oleh masyarakat sekitar. Masyarakat memiliki banyak pertanyaan tentang Islam.

Proses penyebaran Islam agak sulit. Ini karena masyarakat sekitar pada waktu itu tergolong kuno, sangat asing dan juga kuno.

Maka Raden Rahmat dengan segala keterampilan dan ilmunya berusaha beradaptasi dengan kondisi sosial budaya yang ada di sekitarnya. Akhirnya, pada saat itu, ia mampu menyelaraskan kaum elit dengan kaum Muslim.

Pada saat penyebaran Islam, pemerintah berada di bawah pemerintahan Majapahit. Namun, pemerintah kerajaan tidak melarang penyebaran agama Islam.

Pada kenyataannya mereka menghormati dan sangat menghormati hak dan kewajiban yang telah diajarkan oleh Sunan Ampel. Sehingga lambat laun hamba kerajaan itu memilih untuk tetap beriman kepada Islam.

Metode kedua yang digunakan oleh Raden Rahmat adalah pendekatan intelektual dengan diskusi kritis dan cerdas yang dapat diterima oleh akal manusia.

Metode pendekatan ini digunakan untuk menyebarkan agama Islam kepada orang-orang yang digolongkan cerdas atau cerdik.

Dengarkan dan baca: Sunan Gunung Jati

Ajaran Moh Limo oleh Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki filosofi dakwah yang bertujuan untuk meningkatkan akhlak buruk di masyarakat sekitar.

Dalam khotbah yang dilakukan, ia mengajar “Moh Limo” kepada masyarakat di sekitarnya.

Kata “Moh” berasal dari bahasa Jawa yang berarti tidak, dan “Limo” berarti Lima. Jadi Moh Limo adalah “Jangan melakukan lima hal atau tindakan yang dilarang oleh Allah”.

Isi ajaran Moh Limo adalah:

Moh Mabuk (tidak mabuk atau mabuk).
Moh Main (Jangan bermain atau bertaruh).
Moh Madon (Tidak bermain wanita).
Moh Madat (Jangan gunakan narkoba).
Moh Maling (tidak ada pencurian).

Bahkan ajaran Moh Limo masih diajarkan oleh umat Islam saat ini. Dalam masyarakat sekarang dikenal sebagai 5M.

Ajaran yang dilakukan oleh Raden Rahmat disambut oleh Prabu Brawijaya. Bahkan, ia percaya bahwa ajaran Islam itu mulia.

Namun, Prabu Brawijaya tidak ingin memeluk Islam karena ia ingin menjadi raja terakhir Majapahit yang memeluk agama Buddha.

Pada saat itu raja memberikan izin untuk menyebarkan Islam di Kerajaan Majapahit dan juga di Surabaya, tetapi dengan catatan bahwa ia tidak boleh dipaksa.